Jan 05

Dokumentasi Seni Mamaos Bersama Kemendikbud

Di akhir tahun 2013, tepatnya tanggal 28-29 Desember lalu, Perceka Art Centre mendapat kesempatan untuk menjadi subjek dalam program pendokumentasian seni Mamaos khas Cianjur. Program tersebut mengangkat potensi dan aset-aset budaya yang ada di kabupaten Cianjur dalam bentuk video. Bidang seni Mamaos atau seni tembang Cianjuran mengambil latar aktifitas di Sanggar Perceka.

Pengambilan adegan Latihan di Sanggar Perceka

Pengambilan adegan Latihan di Sanggar Perceka


Kegiatan yang dilakukan selama dua hari tersebut memfilmkan kegiatan latihan seni Mamaos di Sanggar Perceka. Latihan berfokus pada pembinaan tembang kepada anak-anak, sebagai generasi yang diharapkan akan menjadi lebih unggul dan memiliki rasa kencintaan yang besar kepada bangsa dan budaya Indonesia. Seperti aktifitas yang dilakukan pada kegiatan latihan rutin, proses pengambilan gambar melibatkan beberapa anak yang sedang belajar tembang. Juga diiringi oleh musisi-musisi tradisional remaja.

Hari kedua pengambilan gambar dilakukan di Situs Megalit Gunung Padang. Latar alam dan kemegahan karya leluhur bangsa Indonesia menjadi andalan dalam segmen ini. Ini menjadi kombinasi yang menarik. Sebab, seni Mamaos yang bernuansa tenang dan anggun berpadu dengan suasana alam.

Adegan Pertunjukan Mamaos di Situs Gunung Padang.

Adegan Pertunjukan Mamaos di Situs Gunung Padang.


Secara keseluruhan, proses pengambilan gambar selama dua hari terhitung lancar. Kegiatan ini menjadi kesan tersendiri untuk para talent yang dilibatkan. Terutama anak-anak yang belajar seni tembang Cianjuran ini. Mereka menjadi lebih termotivasi untuk lebih giat belajar dan berprestasi dalam bidang seni ini. Selain itu menjadi motivasi juga bagi anak-anak Cianjur lainnya.

Semoga upaya dokumentasi yang dilakukan oleh tim produksi Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tersebut mampu menjadi pengantar pesan yang efektif. Terutama bagi generasi bangsa Indonesia berikutnya.

Permanent link to this article: http://perceka.dicianjur.com/dokumentasi-seni-mamaos-bersama-kemendikbud.html

Sep 23

Seren Taun Kasepuhan Ciptamulya 2013

Perceka Art Centre mendapat kesempatan baik untuk mengahdiri kegiatan upacara adat Seren Taun, yang digelar oleh masyarakat adat kasepuah Ciptamulya, Sukabumi selatan. Kesempatan tersebut didapat atas undangan langsung dari Abah Anom, yang juga merupakan sesepuh utama di kasepuhan adat Ciptamulya. Perceka sangat mengapresiasi undangan tersebut dan menjadi sebuah pengalaman yang sangat berkesan. Berikut ini dipaparkan rangkaian kegiatan upacara sérén taun yang sempat Percéka saksikan.

menghadiri acara puncak upacara sérén taun.

menghadiri acara puncak upacara sérén taun.

Acara puncak upacara sérén taun dilaksanakan pada hari minggu tanggal 1 September 2013 di lapangan utama kasepuhan Ciptamulya. Rangkaian acara dimulai dengan mengantar arak-arakan padi dari huma (ladang) untuk di bawa ke lapangan utama, tempat Leuit Si Jimat berada. Leuit si Jimat adalah leuit (lumbung padi) utama yang dijadikan sentral dalam upacara adat sérén taun. Arak-arakan padi disertai dengan rombongan sesepuh dan berbagai jenis kesenian tradisional khas kasepuhan Ciptamulya. Kesenian yang mengiringi arak-arakan padi tersebut diantaranya angklung buhun, rengkong, dan jipéng.

101_0074

Leuit Si Jimat

Arak-arakan masuk melalui gerbang utama kompleks bumi ageung (rumah besar/utama) kasepuhan lalu berputar mengellilingi lapangan sebanyak tiga kali. Setelah itu ditampilkan satu persatu kesenian khas di tengah lapangan untuk disaksikan oleh barisan sesepuh di teras bumi ageung, juga disaksikan oleh masyarakat yang hadir. Masyarakat begitu antusias menyaksikan berlangsungnya rangkaian upacara. Sekitar lebih dari 2000 orang menyaksikan upacara sérén taun ini, baik warga setempat ditambah dengan masyarakat luar yang turut antusias.

Pertunjukan Kesenian

Kesenian yang ditampilkan di tengah lapangan yaitu seni tutunggulan, yang merupakan pertunjukan proses menumbuk padi menggunakan halu dan lisung tradisional. Tutunggulan dilakukan oleh ibu-ibu yang telah biasa menumbuk padi untuk keperluan konsumsi, sehingga seni ini terlihat sangat natural apa adanya. Pertunjukan lalu dilanjutkan dengan seni rengkong. Rengkong adalah sebuah pertunjukan unik dengan menampilkan rombongan pria yang memikul padi dengan digoyang-goyangkan berirama. Goyangan dari pikulan tersebut menghasilkan suara khas, seperti suara ratusan kodok yang saling bersahutan. Padi yang dibawa setelah pertunjukan rengkong selesai, lalu disimpan sementara di dekat Leuit Si Jimat.

seni rengkong

seni rengkong

Setelah itu ditampilkan seni debus atau ilmu kekebalan yang dilakukan oleh dua orang ahli debus di depan barisan sesepuh dan penonton lainnya. Penampilan debus dimulai dengan mendemonstrasikan bahwa senjata tajam (golok) yang digunakan memang asli dan bisa memotong benda. Kemudian mulailah kedua pria tersebut menunjukkan kekebalan fisiknya dengan menghujamkan golok ke perut, leher, dan kakinya tanpa mengalami luka sedikitpun. Pertunjukan ditutup dengan penampilan tarian rampak kendang dengan iringan gamelan lengkap. Setelah seluruh pertunjukan selesai, Abah Anom dan Ema Anom (istrinya) dengan dibarengi barisan sesepuh mengarak padi utama ke Leuit Si Jimat.

Prosesi Ngaleuitkeun

Padi yang sebelumnya telah disimpan di depan Leuit Si Jimat, akan dimasukkan ke dalam Leuit Si Jimat melalui sebuah prosesi yang disebut ngaleuitkeun. Prosesi ini merupakan puncak dari segala rangkaian upacara dan ritual yang telah dilaksanakan sebelumnya selama beberapa hari. Prosesi diiringi oleh lantunan kidung dan alunan suling. Sesaat sebelum Abah dan Ema Anom memasukkan padi, dilakukan doa bersama yang disertai oleh ngukus (membakar wewangian kemenyan/gaharu). Barulah setelah do’a selesai diucapkan, padi mulai dimasukkan ke dalam leuit. Sementara padi sedang dimasukan ke dalam leuit, tim seni angklung buhun dan dogdog lojor mengitari leuit tersebut.

101_0113

Padi yang siap dimasukkan ke dalam lumbung

Orang yang pertama memasukkan dan menyimpan padi ke dalam leuit yaitu Abah Anom dan Ema Anom, dilanjutkan oleh sesepuh lainnya. Setelah para sesepuh, dilanjutkan oleh para pejabat pemerintahan setempat dan pihak berwenang yang turut memiliki andil dalam terselengaranya upacara sérén taun secara keseluruhan. Prosesi dilangsungkan hingga seluruh padi yang tadinya disimpan sementara di depan leuit disimpan ke dalam leuit. Lalu, dilanjutkan dengan acara penutup berupa pertemuan besar di aula utama. Pertemuan di aula utama itu dihadiri oleh seluruh pejabat pemerintahan yang telah diundang, para tamu undangan khusus dan seluruh sesepuh adat di kasepuhan Ciptamulya.

Kegiatan upacara sérén taun yang telah dilakukan selama beberapa hari di kasepuhan Ciptamulya merupakan ungkapan rasa syukur atas berlimpahnya hasil bumi ketika panen, terutama padi. Padi adalah plasma nutfah utama yang harus dimuliakan, karena dapat memberikan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat adat kasepuhan. Oleh karena itu, upacara sérén taun sudah selayaknya dilakukan oleh masyarakat adat kasepuhan Ciptamulya sebagai kearifan lokal yang harus terus dijaga, demi terciptanya ketahanan pangan dan kesejahteraan sosial.

 

Permanent link to this article: http://perceka.dicianjur.com/seren-taun-kasepuhan-ciptamulya-2013.html

Aug 05

Gelar Budaya di Bulan Puasa, Ngalanglang Gunung Padang

gerbangYayasan Perceka Art Centre melaksanakan kegiatan pergelaran seni budaya dengan tema Ngalanglang Gunung Padang, Kamis 1 Agustus 2013. Kegiatan ini dilaksanakan dari pagi sampai malam hari di Situs Megalit Gunung Padang kampung Gunung Padang, desa Karyamukti kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur dengan melibatkan masyarakat setempat dan Forum Masyarakat Peduli Gunung Padang. Dalam kesempatan ini turut hadir Direktur Pembinaan Kesenian dan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Sulistyo S Tirtokusumo beserta staf, yang sekaligus membuka kegiatan secara simbolis.

Rangkaian acara dimulai dengan pelaksanaan arak-arakan pertunjukan lodong (meriam bambu) dan kendang penca untuk mengantar peserta khitanan masal berkeliling, dimulai dari panggung pertunjukan di depan halaman gerbang situs Gunung Padang. Arak-arakan berakhir di panggung utama di area parkir bawah situs. Di panggung utama ditampilkan pertunjukan kendang pencak dan pencak silat dari beberapa padepokan silat yang ada di sekitar kawasan situs. Sebagai pelengkap untuk mengantar kegiatan di bulan Ramadhan, acara dilanjutkan dengan tausiah yang disampaikan oleh Kyai Khoerul Anam, tokoh pemuka agama di kabupaten Cianjur. Untuk menambah keberkahan di bulan suci Ramadhan, Yayasan Perceka Art Centre juga membagikan santunan berupa sembako kepada masyarakat setempat yang kurang mampu. Antusias yang begitu tinggi ditunjukan masyarakat sekitar dengan menghadiri dan mengapresiasi pertunjukan seni yang disajikan di dua lokasi panggung.

silat

Penampilan Pencak Silat dan Kendang Pencak di panggung utama

Sementara kegiatan di panggung utama berlangsung, di panggung pertunjukan halaman gerbang situs ditampilkan berbagai kesenian tradisional khas Sunda lainnya. Sedangkan kelompok pelukis Cianjur turut berpartisipasi dalam kegiatan ini dengan mengabadikan momen ini melalui lukisan. Kesenian yang dipergelarkan di panggung ini antara lain seni tembang sunda mamaos Cianjuran, kacapi suling, tarawangsa, karinding, celempungan, dan kacapi kawih. Pergelaran ini melibatkan seniman-seniman lokal yang telah berkecimpung dalam bidangnya masing-masing, untuk mendukung upaya pengabdian Yayasan Perceka Art Centre kepada masyarakat situs Gunung Padang.

karinding

Seni Karinding-celempung di panggung atas

Pada sore hari acara ngabuburit diisi dengan apresiasi seni karinding-celempung, sambil menunggu waktu berbuka puasa. Acara kemudian dilanjutkan dengan buka puasa bersama antara seniman dan masyarakat setempat. Setelah melaksanakan taraweh bersama, acara dilanjutkan dengan mengarak obor ke puncak Gunung Padang untuk Ngalanglang Gunung Padang. Di puncak situs, kegiatan ditutup dengan do’a bersama untuk keselamatan dan kesejahteraan negri yang dipimpin tokoh agama setempat.

 

Permanent link to this article: http://perceka.dicianjur.com/gelar-budaya-di-bulan-puasa-ngalanglang-gunung-padang.html

Older posts «