Kunjungan Peneliti Litofon dari Inggris

Menjajal musik “gamelan batu”

Perceka.org – Pada 16 April 2017 lalu Sanggar Perceka mendapatkan kunjungan dari Mike Adcock, seorang peneliti musik batu atau litofon dari Inggris. Ia mampir dalam agendanya untuk meneliti musik batu di situs Gunung Padang. Sanggar Perceka menjadi salah satu tujuan dalam agenda penelitiannya karena di Sanggar Perceka terdapat dua perangkat alat musik batu. Seperangkat berupa susunan batu dengan bentuk alami, sedangkan seperangkat lainnya telah dibentuk seperti saron gamelan yang disebut dengan saron batu.

Tangga nada yang terdapat pada alat musik batu di Sanggar Perceka adalah pentatonis (lima nada), dengan mendekati laras atau susunan nada salendro. Batu-batu disusun sedemikian rupa sehingga mampu menghasilkan suara yang nyaring layaknya gamelan yang terbuat dari logam.

Mike bersama rekan-rekan dari Sanggar Perceka menjajal “gamelan batu” dengan bermain bersama-sama dengan improvisasi yang menarik. Dalam kesempatan itu, Mike juga membawa dua perangkat “saron batu” yang ia buat sendiri di Inggris dan telah ditala menjadi nada salendro Sunda.

    

Perceka Warnai Silang Budaya Celaket

MALANG – Perceka Art Centre siap tampil dalam International Celaket Cross Culture Festival (ICCCF) 2016. Persatuan Cendekiawan Karawitan asal Cianjur ini bakal menghangatkan suasana persilangan budaya nusantara di Celaket pada acara yang digelar pada 25-29 Oktober mendatang.

Dengan mengandalkan seni karawitan, tembang Cianjuran, Kacapi dan tari Sunda klasik, sudah dipersiapkan oleh Ketua Perceka Art Centre, Tatang Setiadi.

“Kami sangat apresiasi dengan kehadiran ICCCF yang mewadahi persilangan budaya nusantara bahkan internasional. Kami pun siap memberikan yang terbaik, sehingga suasana pertukara budaya yang hangat di Malang, Celaket bisa menyatukan kita sebagai pewaris budaya bangsa,” kata Tatang, kemarin.

Perceka Art Centre, sudah dikenal sebagai sanggar seni tradisi yang mengakar di Cianjur. Mulai tahun 1990, sanggar seni tradisi ini sudah berjalan dan melestarikan warisan budaya. Selain membangun pondasi pelestarian seni budaya Sunda, Perceka sangat concern dengan pewarisan budaya lokal kepada anak muda, remaja dan guru kesenian se-kabupaten Cianjur.

Tak heran, Tatang mengaku sangat senang dengan kehadiran ICCCF yang menjadi tempat bertemunya para seniman tradisi dan budaya seluruh Indonesia. “Karena ini sesuai dengan misi kami, untuk memperluas jaringan, mengenal dan dikenal satu sama lain, serta menanamkan nilai silaturahmi melalui media seni tradisi,” kata Tatang.

Perceka Art Centre, sudah membawa budaya seni tradisional Cianjur ke level internasional. Seniman Perceka, telah jadi delegasi di event dunia, mulai dari Cultural Olympic Yunani, Enchanting Indonesia di Singapura, Spring Friendship Art Festival di Pyongyang, Korea Utara hingga People to People Exchange Programme di Laos.

Penanggung jawab ICCCF 2016, Hanan A Jalil menegaskan, seni budaya Cianjur dan Sunda yang diwakili Perceka Art Centre, merupakan jawaban bahwa budaya bisa menyatukan perbedaan “Perceka yang dipimpin kang Tatang tentu sudah siap all out untuk menyegarkan silang budaya di ICCCF,” ujar Hanan.

Perceka Art Centre, mewarnai berbagai sajian seni budaya lainnya di ICCCF 2016. Mulai dari ludruk ger-geran yang didalangi oleh Suwijo Tedjo serta dimainkan oleh para tokoh seperti Gus Ipul hingga Rendra Kresna, hingga Ndadi Bareng yang menampilkan 200 seniman jaranan Malang Raya.

Gagah Soeryo Pamoekti, Ketua Panitia ICCCF 2016, menyebut beberapa panggung hiburan yang disiapkan di hari pertama pembukaan, menampilkan Kelompok Pengamen Jalanan Bulungan Jakarta, serta komunitas Koesplus Bersaudara Malang Raya.(fin/aim)

sumber: http://malangpost.net/news/kota-malang/perceka-warnai-silang-budaya-celaket