Kunjungan Peneliti Litofon dari Inggris

Menjajal musik “gamelan batu”

Perceka.org – Pada 16 April 2017 lalu Sanggar Perceka mendapatkan kunjungan dari Mike Adcock, seorang peneliti musik batu atau litofon dari Inggris. Ia mampir dalam agendanya untuk meneliti musik batu di situs Gunung Padang. Sanggar Perceka menjadi salah satu tujuan dalam agenda penelitiannya karena di Sanggar Perceka terdapat dua perangkat alat musik batu. Seperangkat berupa susunan batu dengan bentuk alami, sedangkan seperangkat lainnya telah dibentuk seperti saron gamelan yang disebut dengan saron batu.

Tangga nada yang terdapat pada alat musik batu di Sanggar Perceka adalah pentatonis (lima nada), dengan mendekati laras atau susunan nada salendro. Batu-batu disusun sedemikian rupa sehingga mampu menghasilkan suara yang nyaring layaknya gamelan yang terbuat dari logam.

Mike bersama rekan-rekan dari Sanggar Perceka menjajal “gamelan batu” dengan bermain bersama-sama dengan improvisasi yang menarik. Dalam kesempatan itu, Mike juga membawa dua perangkat “saron batu” yang ia buat sendiri di Inggris dan telah ditala menjadi nada salendro Sunda.

    

Melihat Lebih Dekat Aktivitas Perceka Art Centre Ajarkan Seni dan Budaya hingga Filosofi Kehidupan

dok. Radar Cianjur

HENDAK membuktikan keberadaan sanggar seni di kancah nasional hingga internasional yang telah dikelola sejak puluhan tahun yang lalu, Tatang Setiadi (55) sang budayawan sekaligus Ketua Sanggar Perceka Art Centre Cianjur dengan penuh pengabdian mencetak generasi penerus yang mencintai seni dan budaya nenek moyangnya.

DI tengah hiruk pikuk aktivitas pusat kota Cianjur, berdiri sebuah sanggar seni yang sudah puluhan tahun secara konsisten mencetak seniman dan budayawan asal Cianjur. Tak sedikit dari mereka kini yang sudah mampu berkiprah, baik skala lokal, regional, nasional, hingga internasional. Sanggar tersebut bernama Perceka Art Centre yang berlokasi di Jalan Suroso nomor 58, Kelurahan Bojongherang,  Kecamatan Cianjur.

Konsistensi Perceka Art Centre yang diketuai Tatang Setiadi (55) bahkan sudah melanglang buana hingga kancah mancanegara. Secara mandiri, selama puluhan tahun, Tatang terus-menerus mengajarkan kepada para anak didiknya tentang pentingnya memahami dan mempelajari seni, budaya berikut nilai historis dan filosofis yang terkandung didalamnya.

Saat disambangi Radar Cianjur, nampak lima orang siswi tengah serius mempelajari tentang alat musik kacapi sunda. Mereka adalah Elisa Nayasari Haryono (15) asal Jangari, Lutfi Alfiyani (15) asal Jebrod, Hanifa Yusmi Zahrah (15) asal Gadung Permai, Siti Salsa Dedila Husna (15) asal Lembuir Tengah dan Afifah Inayah (15) asal Panembong.

Mereka diketahui merupakan siswi kelas IX SMPN I Cianjur yang tertarik untuk mempelajari seni sunda, khususnya seni musik kacapi. Meski awalnya mereka mendapat dorongan dari guru mereka, namun lama-kelamaan kian tertarik mendalami tradisi khas nusantara tersebut. “Kesannya menyenangkan, unik dan membuat rileks. Awalnya memang karena disuruh oleh guru, tapi ternyata semakin menarik untuk dipelajari,” ungkap salah seorang siswi, Elisa kepada Radar Cianjur.

Usai latihan memetik senar kacapi, para siswi tersebut dibberi beberapa kisah tentang hikayat masa lampau yang sarat makna filosofis. Metode yang ia terapkan terbilang diluar kebiasaan. Para anak didiknya itu dibiarkan duduk bersila dengan posisi tegap seraya membuat mereka rileks. Sesekali mengatur pernafasan.

Kepada wartawan koran ini, Tatang Setiadi menuturkan, masing-masing bagian tubuh seseorang memliliki kehendak. Semuanya berjalan dengan keselarasan antar anggota tubuh hingga mampu berfungsi sebagaimana mestinya. “Otak yang memiliki skenario, hati adalah sutradaranya, serta anggota tubuh yang lain merupakan pemerannya. Semuanya memiliki kehendak sendiri. Disitulah tercipta olah rasa yang melahirkan berbagai kesenian,” tutur Tatang seraya tersenyum.

Karenanya, ia tak pernah lelah untuk mentransformasikan ilmunya kepada para generasi penerus. Ia juga kerap menanamkan tentang kesetaraan gender antara kaum pria dan kaum wanita. Menurutnya, tradisi seks bebas dan pernikahan dini bukan merupakan warisan budaya nenek moyang, melainkan warisan zaman penjajahan. “Kenali diri, maka kita akan mengenal Tuhan. Lebih jauh, kita juga akan mampu mengenal sejarah, tradisi, nilai-nilai dan budaya bangsa kita sendiri,” tutupnya berpesan. (*)

Sumber: Radar Cianjur pada Kamis, 17 Maret 2016